Tentang Ku

BLOG INI TENTANG MUSIK DAN BUDAYA

Kebudayaan Bangka Belitung

1. Tari Campak
Tari Campak merupakan salah satu tarian Tradisional yang ada di Pulau Bangka Belitung. Tari Campak menggambarkan kecerian Bujang Dayang (muda-mudi) yang ada di Pulau Bangka Belitung.
















Tari Campak ini biasanya dibawakan setelah panen padi atau sepulang dari uma (kebun). Tarian ini berupa pantun bersambut yang biasanya didendangkan oleh sepasang penari yang terdiri dari Penari Perempuan yang disebut nduk campak dan Penari Pria yang disebut penandak.


Tari Campak diiringi dengan irama yang khas yaitu tabuhan dari Gendang, Biola, dan Gong yang ditabuh/dipukul secara berkala. Para Penari menggunakan Selembar Saputangan yang dikibas-kibaskan mengiringi lenggok gemulai para Penari. Pasa saat tarian ini berlangsung biasanya penonton bebas memberi Sawen kepada Penari Perempuan (nduk campak).


Tari Campak ini digunakan sebagai hiburan dalam berbagai penyambutan tamu atau pada saat pernikahan di Pulau Bangka Belitung

2.MANDI BELIMAU
Mandi Belimau adalah salah satu adat istiadat di Pulau Bangka Belitung yang diadakan menjelang Bulan Ramadhan. Pelaksaan Mandi Belimau ini bertujuan untuk membersihkan diri menjelang Bulan Ramadhan.

Upacara diawali dengan kegiatan Napak Tilas yaitu melakukan ziarah dan tabur bunga di makam Depati Bunter, Desa Kimak yang ditempuh dengan menggunakan perahu motor untuk menyeberang sungai. Setelah melakukan ziarah semua orang yang ikut kegiatan ini pulang kembali dan menuju Dusun Limbung Desa Jada Bahrin untuk melakukan ritual Mandi Belimau tersebut.
Ritual Adat Mandi Belimau dimulai dengan Pengutaraan niat yang disertai doa yang dipimpin oleh Haji Ilyasak keturunan kelima dari Depati Bahrin yang sekarang adalah sebagai Pemuka Adat Kecamatan Merawang. Dalam Upacara ini Haji Ilsyak sebagai pemimpin menggunakan Kain Putih,sementara lima Pemuka Adat lainnya yang membantu menggunakan kain berwarna Hijau, Merah, Kuning, Hitam, dan Kelabu. Selanjutnya pelaksanaan mandinya dilakukan di depan Sungai Limbung, yang dimulai dengan membasahi telapak tangan dari kanan dan kiri, kemudian kaki kanan dan kiri yang diteruskan membasahi ubun-ubun dan seluruh anggota tubuh dengan siraman air yang dicampur dengan jeruk limau yang disimpan dalam gentong air.







Masyarakat yang ingin dimandikan sebelumnya dianjurkan terlebih dahulu
berdoa apa saja untuk kebaikan mereka. Selain itu banyak masyarakat yang juga membawa pulang air yang digunakan pada ritual Mandi Belimau ini karena mereka meyakini bahwa air ini mempunyai khasiat tertentu.
Ritual adat Mandi Belimau ini adalah simbol-simbol tradisi yang baik untuk perenungan dan pensucian diri baik lahir maupun batin. Diharapkan simbol-simbol Mandi Belimau ini dapat membekas bagi masyarakat untuk kehidupan selanjutnya dan bukan hanya prosesi saja.

Gambar: metrobangkabelitung.wordpress.com & http://www.bangka.go.id/

3.SEMBAHYANG REBUT (CHIT NGIAT PAN)

Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat Pan adalah salah satu adat kepercayaan warga Tionghoa yang ada di Pulau Bangka Belitung. Warga Tionghoa percaya pada tanggal 15 bulan 7 menurut perhitungan tanggal Cina pintu akhirat terbuka lebar, sehingga arwah-arwah yang berada didalamnya keluar dan bergentayangan di Dunia. Di Dunia arwah-arwah ini terlantar dan tidak terawat oleh karena itu manusia (warga Tionghoa) menyiapkan ritual khusus untuk memberi bekal seperti makanan, pakaian, dan uang agar arwah-arwah ini tidak mengganggu manusia.
Ritual Sembahyang Rebut ini, tidak hanya dikunjungi oleh warga Tionghoa saja tapi ada juga warga-warga lainnya.



Ritual ini dimulai dengan pembacaan doa sambil membakar Hio oleh para pengunjung di dalam kuil (disebut Sembahyang). Selain di dalam kuil diluar kuil juga diletakan sesajian-sesajian yang diletakkan di Altar besar, dan katanya sesajian inilah yang menjadi jamuan untuk para arwah. Setelah itu ritual dilanjutkan dengan upacara Rebutan Sesajian yang ada di Altar tersebut.
Puncak dari ritual ini adalah pembakaran Patung Thai Se Ja. Patung Thai Se Ja ini dibuat dari kertas. Patung ini disimbolkan sebagai dewa akhirat yang akan membawa arwah-arwah yang gentayangan tersebut kembali ke akhirat. pada saat pembakaran Patung Thai Se Ja juga di bakar rumah-rumahan,uang-uangan, dan pakaian yang juga dibuat dari kertas. Semua barang-barang ini konon katanya digunakan para arwah pada saat perjalanan pulang kembali ke akhirat.
Pembakaran Patung Thai Se Ja menandakan bahwa arwah-arwah telah kembali ke dunianya lagi. Dan manusia dapat menjalani kehidupan di duina lagi tanpa takut diganggu arwah-arwah gentayangan tersebut.







Gambar: flicky.com/photos & arsip.pontianakpost.com

4. BUANG JONG
Asal Mula Upacara Buang Jong
Buang Jong merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya selama ratusan tahun menetap di lautan, baru pada tahun 1985 suku Sawang menetap di daratan dan hanya pergi ke laut apabila ingin mencari hasil laut. Buang Jong dapat berarti membuang atau melepaskan perahu kecil (Jong) yang didalamnya berisi sesajian dan ancak (replika kerangka rumah-rumahan yang melambangkan tempat tinggal).
Tradisi Buang Jong biasanya dilakukan menjelang angin musim barat berhembus, yaitu antara bulan Agustus-November. Pada bulan-bulan tersebut, angin dan ombak laut sangat ganas dan mengerikan. Gejala alam ini seakan mengingatkan masyaraka suku Sawang bahwa sudah waktunya untuk mengadakan persembahan kepada penguasa laut melalui upacara Buang Jong. Upacara ini sendiri bertujuan untuk memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang mungkin dapat menimpa mereka pada saat berlayar ke laut untuk mencari ikan. Upacara Buang Jong ini dapat memakan waktu hingga dua hari dua malam.



Alur Pelaksanaan Upacara Buang Jong

Buang Jong dimulai dengan menggelar Berasik, yaitu prosesi mengundang mahluk halus melalui pembacaan doa, yang dipimpin oleh pemuka adat suku Sawang, Pada saat prosesi Berasik berlangsung, akan tampak gejala perubahan alam, seperti angin yang bertiup kencang ataupun gelombang laut yang tiba-tiba begitu deras.
Usai ritual Berasik, upacara Buang Jong dilanjutkan dengan Tarian Ancak yang dilakukan di hutan. Pada tarian ini, seorang pemuda akan mengoyang-goyangkan replika kerangka rumah yang telah dihiasi dengan daun kelapa keempat arah mata angin. Tarian yang diiringi dengan suara gendang berpadu gong ini, dimaksudkan untuk mengundang para roh halus, terutama roh para penguasa lautan untuk ikiut bergabung dalam ritual Buang Jong ini. Tarian Ancak berakhir ketika si penari kesurupan dan memanjat tiang tinggi yang disebut Jitun.




Selain menampikan Tarian Ancak, masih ada tarian lain yang juga ditampilkan dalam upacara Buang Jong yaitu Tarian Sambang Tari. Tarian yang dimainkan oleh sekelompok pria ini, diambil dari nama burung yang biasa menunjukan lokasi tempat banyaknya ikan buruan bagi para nelayan di laut. Ketika nelayan kehilangan arah, burung inilah yang menunjukan jalaan pulang untuk para nelayan. Upacara Buang Jong kemudian dilanjutkan dengan ritual


Numbak Duyung, yaitu mengikat tali pada sebuah pangkal tombak sambil membaca mantra. Mata tombak yang sudah dimantrai ini sangat tajam, sehingga konon katanya dapat digunakan untuk membunuh ikan duyung. Ritual kemudian dilanjutkan dengan memancing ikan di laut. Konon bila ikan yang di dapat banyak maka orang yang mendapat ikan tersebut tidak diperbolehkan untuk mencuci tangan di laut.
Setelah itu upacara Buang Jong dilanjutkan dengan acara jual-beli Jong. Pada acara ini orang darat (penduduk sekitar perkampungan Suku Sawang) juga dilibatkan. Jual-beli disini bukan menggunakan uang tetapi pertukaran barang antara orang darat dengan orang laut. Pada acara ini, dapat terlihat bagaimana orang darat dan orang laut saling mendukung dan menjalin kerukunan. Dengan perantara dukun, orang darat meminta orang laut mendapat banyak rejeki, sementara orang laut meminta agar tidak dimusuhi pada saat berada di darat. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan Beluncong, yaitu menyanyikan lagu-lagu khas Suku Sawang dengan bantuan alat musik sederhana. Usai Beluncong, acara disambumg dengan Nyalui, yaitu acara untuk mengenang arwah orang-orang yang sudah meninggal.
Upacara ini diakhiri dengan melarung atau membuang miniatur kapal bersama berbagai macam sesajian ke laut. Setelah pelarungan, masyarakat Suku Sawang dilarang untuk melaut selama tiga hari ke depan.
Tempat Pelaksanan Upacara Buang Jong
Biasanya Upacara Buang Jong ini diadakan di kawasan Pantai yang dekat dengan perkampungan masyarakat Suku Sawang. Salah satunya adalah di kawasan Pantai Tanjung Pendam, Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung.



5 Beripat Beregong

 Beripat Beregong adalah salah satu permainan yang sampai sekarang masih digemari oleh masyarakat Belitung. Beripat Beregong dimainkan oleh dua orang pria yang saling memukul punggung masing-masing dengan menggunakan sebuah rotan khusus. Permainan ini diiringi oleh alat musik tradisional seperti: gong, tawak, kelinang dan serunai. Di masa lalu orang Belitung menjadikan permainan Beripat Beregong sebagai ajang untuk mengukur keberanian para pendekar, tetapi sekarang permainan ini dimainkan sebagai hiburan dalam festival tradisional seperti Maras Taun dan Selamat Kampong.

Beripat beregong






6. Lepat Beras


Caesar Alexey


Sebagai perayaan syukur atas panen padi, para penduduk menggelar acara menumbuk padi bersama-sama. Beras yang dihasilkan oleh acara penumbukan padi itu akan digunakan untuk acara makan beras baru dan membuat lepat.

Lepat pada acara maras taun tidak dibuat dari beras ketan, tetapi dari beras ladang yang berwarna merah. Lepat tersebut diisi sepotong kecil ikan atau daging sehingga memberi aroma gurih.

Lepat dibuat dalam dua ukuran, yakni normal (selebar dua jari orang dewasa) dan raksasa. Lepat raksasa dalam perayaan Maras Taun kali ini beratnya sampai 60 kilogram, sedangkan lepat kecil dibuat 5.000 buah.

Pada akhir acara, lepat besar dipotong dan dibagikan kepada masyarakat dan pejabat lokal yang hadir. Sementara itu, lepat kecil yang diletakkan dalam sebuah pondok bambu, yang bernama pondok membarong, boleh menjadi rebutan penduduk.

Sebagai pesta rakyat, maras taun di Selat Nasik sudah dirayakan dua hari sebelumnya. Selama tiga hari itu masyarakat yang hadir disuguhi berbagai pertunjukan kesenian, baik dari desa itu maupun dari wilayah-wilayah lain.

Pada malam sebelum acara, kesenian seperti stambul (keroncong) fajar khas Belitung, tari piring khas minang dan teater Dulmuluk dari Sumatera Selatan dipertontonkan. Pentas musik dengan organ tunggal juga digelar untuk menghibur rakyat yang berpesta.

Makanan yang dihidangkan dalam pesta rakyat ini didominasi oleh makanan laut. Berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan cumi-cumi dimasak dengan berbagai cara. Kegembiraan terpancar dari wajah semua penduduk karena mereka yang mempersiapkan detail acara, mulai dari makanan sampai hiburan secara mandiri

7. Maras Taun


Maras taun berasal dari kata maras yang berarti meniris (membersikan duri halus) sedangkan taun berasal dari kata tahun. Maras tahun diadakan setiap setahun sekali oleh masyarakat Belitung didesa dan kecamatan sebagai wujud
rasa syukur setelah melewati musim panen padi. Maras taun merupakan pertanggung jawaban dukun kampung kepada masyarakat. Ritual utama maras taun adalah: doa awal,  tepong taw bwlitung dan doa penutup. Dalam perayaan ini kita bias menyaksikan kesenian tradisonal khas Belitung seperti tari sepen, nutok lesong panjang dan ngemping


8.Perang Ketupat

Tradisi Perang Ketupat di Desa Tempilang
Tahun ini rencananya Perang Ketupat akan berlangsung pada tanggal 17 Juli mendatang. Seperti biasanya, acara adat ini selalu terpusat di Pantai Pasir Kuning, desa Tempilang.
Saya sendiri sebenarnya belum pernah secara langsung menyaksikan Perang Ketupat berhubung waktu dulu tinggal di Bangka, jarak dari rumah ke desa Tempilang cukup jauh. Tapi saya seringkali melihat foto – foto terbaru atau mendengar cerita langsung tentang Perang Ketupat dari tetangga saya yang kebetulan asli sana.
Tidak ada catatan sejarah yang pasti kapan tradisi Perang Ketupat pertama kali dimulai. Ada yang mengatakan bahwa Perang Ketupat dimulai sejak jaman penjajahan Portugis, ada juga yang berpendapat tradisi ini telah ada saat Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Namun yang pasti, Perang Ketupat telah dilaksanakan secara turun temurun dan tetap dilakukan hingga sekarang.
Sebagai wisata budaya, Perang Ketupat cukup menarik minat wisatawan lokal, nasional, maupun mancanegara. Buktinya, jika dulu hanya masyarakat sekitar desa Tempilang yang sering menonton saat ini pelaksanaan Perang Ketupat terbuka untuk umum dan diselenggarakan besar – besaran dengan disediakannya panggung serta area khusus penonton, panggung budaya, serta pentas hiburan dari artis – artis lokal maupun artis Ibu Kota.
Menurut para sesepuh desa, Perang Ketupat merupakan upacara adat yang dilakukan untuk memberi makan makhluk – makhluk halus di desa Tempilang agar tidak menjadi roh jahat. Upacara adat berlangsung selama dua hari dimana pada hari pertama upacara dilakukan pada malam hari. Upacara dimulai dengan beberapa tarian untuk mengiringi sesaji yang diletakkan pada semacam rumah – rumahan yang dikenal dengan nama penimbong

Sumber berbagai Situs bangka Belitung

Pakaian Adat Tradisional Bangka Belitung

Pakaian Adat Tradisional Bangka Belitung - Mengenal nama pakaian adat kepulauan Bangka Belitung. Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu bagian provinsi yang ada di Indonesia, dan terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Ibu kota provinsi Kepulauan Bangka Belitung ialah Pangkalpinang. Kain cual merupakan kain adat dari Bangka Belitung. Bentuk kainnya menyerupai songket dan memiliki motif yang khas. Informasi ini mengenai Budaya Indonesia yang berasal dari budaya Bangka Belitung yaitu info tentang pakaian adat daerah Bangka Belitung.

Masih mengenai kumpulan info Pakaian Adat Indonesia, Anda saya ajak untuk mengentahui budaya bangka Belitung yiatu tentang pakaian tradisional daerah Bangka Belitung, dimana pakaian adat ini menjadi bagian dari Pakaian Tradisional Indonesia. Jika Anda ingin lebih mengenal lagi tentang provinsi Bangka Belitung, Anda juga bisa datang dan berlibur untuk menikmati beragam Obyek Tempat Wisata Bangka Belitung. Jangan lupa kalau Anda berkunjung ke Babel cicipi Makanan Khas Bangka Belitung yang rasanya maknyusss..

Gambar Pakaian Adat Tradisional Daerah Bangka Belitung

Pakaian Adat Tradisional Bangka Belitung

Busana Adat Daerah Bangka Belitung

Baju Adat Tradisional Bangka Belitung

Untuk Pakaian adat pengantin wanita Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung berupa baju kurung merah, dimana baju adat ini biasanya terbuat dari bahan kain sutra ataupun dari bahan beludru yang mana pada jaman dulu sering disebut dengan baju Seting dan untuk kain yang dikenakan berupa kain bersusur ataupun kain lasem atau biasa disebut dengan nama kain cual. Kain cual ini merupakan kain tenun asli yang berasal dari Mentok. Pada bagian kepalanya menggunakan mahkota yangbiasanya dinamakan dengan "Paksian". Sedangkan untuk mempelai pria nya akan mengenakan "Sorban" atau kalau dalam masyarakat setempat disebut di sebuat dengan Sungkon.

Untuk busana pengantin kaum perempuan yang ada di sini, menurut keterangan dari orang tua-tua yang berasal dari Cina, konon ada ceritanya tersendiri. Menurut cerita waktunitu ada saudagar yang berasal dari Arab yang datang ke negeri Cina, Tujuannya adalah untuk berdagang dan juga untuk menyiarkan agama Islam. saudagar ini kemudian jatuh cinta dengan seorang gadis Cina. Selanjutnya mereka melangsungkan upacara perkawinan dengan gadis Cina tersebut, Dan pada acara perkawinan inilah kedua mempelai ini memakai pakaian adat masing-masing.

Karena waktu itu banyak sekali orang-orang yang berasal dari Cina dan Arab yang datang untuk merantau ke wilayah pulau Bangka terutama ke Kota Mentok. Waktu itu Kota Mentok ini sebagai pusat pemerintahan. Dan pada saat itu diantaranya ada yang telah melakukan upacara perkawinan maka banyak sekali masyarakat pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Pakaian untuk pasangan pengantin ini pada akhirnya di sebut dengan nama pakaian "Paksian"

Pakaian Adat Pengantin Perempuan
Pakaian Adat Pengantin Perempuan terdiri dari baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teretai atau penutup dada serta menggunakan kain Cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Selain itu para Pengantin Perempuan juga menggunakan Hiasan Kepala dan dilengkapi dengan asesoris-asesoris antara lain:
1. Kembang Cempaka
2. Kembang Goyang
3. Daun Bambu
4. Kuntum Cempaka
5. Sepit Udang
6. Pagar Tenggalung
7. Sari Bulan
8. Tutup Sanggul atau Kembang Hong
9. Kalung
10. Anting Panjang
11. Gelang
12. Pending Untuk Pinggang

Baju Pengantin Perempuan ditambah dengan hiasan Payet atau Manik-Manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).





Pakaian Adat Pengantin Pria
Untuk Pakaian Adat Pengantin Pria terdiri dari:
1. Jubah Panjang Sebatas Betis
2. Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan
3. Celana
4. Penutup kepala seperti Sorban (Sungkong )
5. Pending
6. Selop/ Sandal Arab

Pakaian Pengantin Pria ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan Manik-Manik dan sama seperti Pengantin Perempuan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan)




Hiasan & Tata Rias

1. Hiasan Dahi
Memakai penutup dahi yang diberi nama "Paksian" dan di dahi di pasang Saribulan, Pagar Tanggalung, dan Sepit Udang pada samping kiri kanan telinga ( Godeg)

2. Bentuk Sanggul
Konde Tilang yang terbuat dari gulungan daun pandan atau lipatan daun pandan yang diisi dengan bunga rampai yang terdiri dari bunga mawar, melati, kenanga dan irisan daun pandan. Pada zaman dulu yang dipakai adalah sanggul cumpok atau cepul.




MAHKOTA PAKSIAN






SORBAN atAu SUNGKON

Asal Muasal Pulau Belitung

Sumber :  Zhalwa Alya Monica under on 9:26 PM
Belitung Place In The Map


           Abad ke 7, Belitung masih belum ditandai adanya kekuasaan dari kerajaan mana pun. Kerajaan Sriwijaya pada masa itu hanya menanamkan kekuasaannya di Pulau Bangka dengan menancapkan sebuah Prasasti Kota Kapur, di pantai Bangka barat. Prasasti itu merupakan prasasti persumpahan hanya untuk menundukkan Bangka. Tahun 899, nama “Belitung” di kenal erat sekali dengan nama raja Mataram kuno, Maharaja Rakai Watukara Dyah Balitung dari dinasti sanjaya yang berkuasa di Jawa Tengah dan Timur antara tahun 899 hingga 910. Nama Dyah Balitung terpahat dalam 14 prasasti Jawa Kuno pada batu dan tembaga.
Tahun 1293, Majapahit menguasai Bangka dan Belitung maka nama Belitung tertulis dalam Syair Nagara Kartagama tahun 1365, ditulis oleh Mpu Prapanca. Pada tahun 1413 kedatangan Laksamana Cheng Ho dari China menyebutkan Belitung dalam catatan perjalanannya. Tahun 1436, Fei Hsin ahli sejarah China juga mencatat tentang Belitung.
Pada masa Majapahit, Belitung dipimpin oleh seorang panglima kerajaan yang disebut Rangga Yuda oleh penduduk disebut Rangga Uda atau Ronggo Udo berkuasa di Badau. Raja ini memerintah sampai beberapa generasi dan tiap generasi rajanya tetap saja bergelar dengan sebutan Rangga Uda atau Ronggo Udo sampai turunan ke tiga atau raja terakhir tak memiliki keturunan laki-laki sebagai pewaris. Pada masa ini penduduknya masih memeluk Hindu dan menyembah berhala. Nampaknya riwayat “raja berekor” yang sekarang jadi legenda hidup di zaman ini.
Masa pemerintahan Rangga Yuda atau Ronggo Udo, dikenal ada empat wilayah kekuasaan antara lain, wilayah Badau disebut Tanah Yuda atau Singa Yuda yang berarti negeri panglima atau tempat pemerintahan raja, wilayah Buding disebut Istana Yuda yang berarti tempat pesanggrahan raja, wilayah Sijuk disebut Wangsa Yuda atau Krama Yuda yang berarti tempat keluarga serta abdi raja. dan terakhir adalah Sura Yuda yang berarti tempat suci raja atau daerah yang dikeramatkan.
Tahun 1520, mundurnya kerajaan Majapahit yang seiring dengan masuknya Islam di Jawa, Belitung pun kedatangan seorang ulama dari Gresik, yaitu Datuk Mayang Gresik, menandai masuknya Agama Islam pertama di Belitung, beliau masuk dari sungai Brang dan berdiam di Pelulusan kemudian berhasil menarik banyak pengikut hingga beliau mengusai tahta kerajaan Badau dari tangan raja Ronggo Udo yang terakhir. Setelah Datuk Mayang Gresik menduduki tahta, beliau juga diberi gelar Ronggo Udo, namun karena Beliau Islam maka disebut Kiai Ronggo Udo atau Ki Ronggo Udo. Setelah menguasai Badau beliau tetap berkedudukan di Pelulusan.
Kepercayaan dan agama penduduk terpecah menjadi dua, yang beragama Islam menjadi kukuh di Pelulusan sedangkan sebagian pemeluk Hindu tetap bertahan di Badau dan sekitarnya juga di tiga wilayah Yuda lainnya.
Tahun 1590-an, Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik bersama pengikutnya yang sudah Islam, memindahkan pusat pemerintahan ke hulu tepi sungai Balok atau wilayah Dendang dengan alasan lebih memudahkan pelayaran ke Jawa karena teluk Balok menghadap langsung ke laut Jawa. Perpindahan pusat pemerintahan ini memunculkan ketidak-senangan dari penduduk lama yang tetap mau bertahan di Badau terhadap penduduk yang ikut dengan raja mereka hingga muncul “Persumpahan Perenggu” dan sumpah itu mengutuk pernikahan antara turunan orang Badau dengan orang Dendang yang menjadi pengikut Ki RonggoUdo atau Datuk Mayang Gresik. Kepercayaan terhadap sumpah itu berlangsung hingga beberapa abad.
Sekitar tahun 1600, masuklah seorang bangsawan dari Mataram, Kiai Masud atau Kiahi Gegedeh Yakob alias Ki Gede Yakob. Ki Gede Yakob adalah putra Pangeran Kaap seorang mangkub atau bendahara. Ki Gede Yakob juga adalah ponakan Ki Gede Pamanahan. Sebagai seorang ulama Ki Gede Yakob diterima baik oleh raja Balok Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik karena misi dari ulama Gresik ini belumlah maksimal mengIslamkan penduduk Belitung apalagi praktek perdukunan dan mistik masih begitu kental merasuki penduduknya.
Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik tak memiliki putra mahkota hingga ketika putri tunggalnya Nyi Ayu Kusuma menikah dengan Ki Gede Yakob Tahta kerajaan Balok diserahkan Ki Ronggo Udo kepada Ki Gede Yakob. Penyerahan kekuasaan ini bukan semata karena Ki Ronggo Udo tidak memiliki putra mahkota tapi Ki Gede Yakob adalah putra keluarga Negara Mataram yang hampir menguasai seluruh pulau Jawa kecuali Banten, Cirebon, dan Batavia.
Tahun 1618-1661, Depati Cakraninggrat I Ki Gede Yakob. Penyerahan kekuasaan dari Ki Ronggo Udo kepada mantunya Ki Gede Yakob lagi-lagi menimbulkan ketidakpuasan dari empat daerah kecil yang masih dikuasai oleh turunan keluarga Rangga Yuda atau sisa dari kekuasaan Majapahit yang dulu berkuasa di Badau, kini masih menguasai tiga wilayah lainnya yaitu Buding, Sijuk, dan Belantu. Belantu sendiri diam-diam sudah mengirimkan upeti takluk ke Palembang tidak ke Balok.
Setelah naik tahta tahun 1618, Ki Gede Yakob meminta restu serta perlindungan kepada Cakrakusuma Agung atau Sultan agung di Mataram atas kekuasaannya di Balok. Tapi oleh Sultan menganjurkan untuk segera minta pengakuan serta perlindungan pada raja Palembang karena Palembang masih dibawahi Mataram ( Palembang dirongrong oleh Banten, sementara Banten dibayangi oleh Mataram. Tunduknya Palembang pada Mataram hingga tahun 1677 dan Sultan Palembang masih mengirim 10 armada kapal untuk membantu Mataram dalam pemberontakan Trunojoyo)
Perintah Sultan Mataram untuk minta perlindungan raja Palembang dipenuhi oleh Ki Gede Yakob kemudian oleh mertuanya yaitu Ki Ronggo Udo mengutus seorang kepercayaannya yang berasal dari Badau. Utusan ini dikhususkan guna meminta pengakuan dan perlindungan Palembang atas kekuasaan seorang putra Mataram. Konon, utusan ini hanya seorang diri dan menyelesaikan tugasnya hanya beberapa hari saja. Dan utusan itu menjadi terkenal hingga penduduk melekatkan sebuah senandung yang dikenal sampai kini “Unggang-Unggit Perau Badau, Sape Kecit Debawak Ngayau” dengan demikian seluruh sisa dari kekuasaan Majapahit yang tersisa di Belitung takluk kepada raja Balok keluarga Mataram Islam ini.
Tahun 1661 Ki Gede Yakob menguasai seluruh Belitung atas restu Mataram dan memerintah Kerajaan Balok dengan pangkat depati dan bergelar Cakraninggrat dan keturunannya bergelar Kiahi Agus atau Ki Agus untuk laki-laki, dan Nyi Ayu atau Nyayu untuk turunan perempuan.
Pada masa ini sudah dikenal adanya rumah balai atau rumah adat yang disebut dengan Ruma Gede. Balai atau rumah adat ini didirikan karena untuk mengikat penduduk yang terpisah dari empat wilayah serta beragam etnis yang sudah bermukim di Belitung. Hukum Adat mulai dilakukan dengan tegas di masa ini, baik perdata atau pidana; misal jika ada yang membunuh maka si pembunuh harus dihukum gantung, jika ada yang tak sanggup membayar hutang maka harus menjadi budak dari piutang hingga hutangnya lunas, jika mengambil istri orang hukumannya dibunuh di gelanggang umum, jika laki-laki dan perempuan bermuat mesum atau berzina maka hukumannya dibuang ke laut, dan lain sebagainya.Pada masa Cakraningrat I seorang ulama Islam, Syech Abdul Jabar Syamsudin, dari Pasai, menyiarkan agama Islam di Balok dan memperkenalkan awal kesenian hadra atau rudat. Makam beliau berdekatan dengan makam Ki Gede Yakob di Balok Lama.
Tahun 1661-1696, Depati Cakraninggrat II atau Ki Agus Abdullah atau KA Mending alias Ki Mending. Beliau memindahkan pusat pemerintahan ke Tebing Tinggi atau Balok Baru. Tak diketemukan alasan mengapa beliau memindahkan pusat pemerintahannya Pada Manukrip yang ditulis oleh KA Abdul Hamid tahun 1934; Raja Balok ini mengendalikan pemerintahannya dari tempat pertapaannya. Namun Beliau sesungguhnya tak sepenuhnya meninggalkan Balok Lama karena Balok Baru hanya berjarak beberapa kilometer saja. Tahun 1668, kedatangan kapal Belanda “De Zandloper”, dipimpin oleh Jan de Harde, nampaknya naik ke Balok Lama, dalam risetnya ia menggambarkan tentang situasi dan kondisi kerajaan Balok termasuk adanya rumah balai atau rumah adat. Beliau seorang pertapa, menganut mistis terkenal dengan julukan raja dukun yang memberikan wewenang kepada para dukun di tiap-tiap kampung atau kubok. Jadi penduduk tidak lagi perlu meminta izin raja jika mau menguasai tanah ladang tapi cukup ke dukun. Beliau mencanangkan Tanah Pusake yang tak boleh diganggu antara lain Tanjung Kelumpang, Hulu Sungai Lenggang, Hulu sungai Kembiri.Cakraninggrat II, KA Abdullah atau Ki Mending di makamkan di Balok Baru.
Tahun 1696-1700, Depati Cakraninggrat III, KA Ganding atau Ki Gending, menjadi raja Balok ke 3 menggantikan Ki Mending. Sebelum beliau meduduki tahta menggantikan ramondanya, beliau selalu ke Kataram, belajar ilmu pemerintahan kepada sunan Tegalwangi hingga ketika sudah memerintah, beliau membagi kekuasaan kepada 4 wilayah yang pada masa Cakraninggrat I dikuasai langsung oleh raja atau depati Ki Gede Yakob. Ke 4 wilayah ini dinamakan ngabehi (4 wilayah yang namanya berbau hindu seperti Tanah Yuda, Istana Yuda, Krama Yuda, Sura Yuda sudah tidak dipakai lagi) Pemerintahan wilayah di ngabehi dipimpin oleh orang dekat dengan keluarga raja, ia disebut ngabe atau ngabei yang artinya orang keraton. Ngabehi adalah wilayah setingkat kecamatan antara lain, Ngabehi Buding, Ngabehi Badau, Ngabehi Sijuk, dan Ngabehi Belantu. Pada masa ini mengikisan ajaran yang berbau Hindu terus gencar dilakukan bersama masuknya ulama-ulama dari Pasai dan seorang anak raja menjadi ulama yang sangat taat keIslamannya yaitu KA Siasip, beliau sudah meninggalkan ajaran kaula gusti yang masih melekat dalam ajaran keluarga di keraton. Sebagai Penghulu Islam, beliau mengajar berbagai sistem dan tatacara adat-istiadat yang disesuaikan dengan ajaran Islam, seperti tatacara pernikahan dan perayaan pernikahannya. Sampai KA Siasip meninggal, beliau tetap dihormati bahkan ada orang mengeramatkan makamnya yang disebut dengan Keramat Sisil, Konon, ada pohon sisil di makamnya, jika dipotong dahannya maka akan tumbuh lagi dalam sekejab. Cakraninggrat III, KA Ganding atau Ki Gending meninggal sewaktu bekunjung ke Jawa dan di makamkan di Pamanukan Jawa Barat.
Tahun 1700-1740. Depati Cakraninggrat IV, KA Bustam atau Ki Galong. Beliau adalah adik dari KA Ganding, beliau menjadi raja karena putra mahkota yaitu KA Siasip tidak berkenan jadi raja, beliau lebih suka menjadi penghulu. Dan KA Siasip adalah kepala penghulu Agama Islam pertama di Belitung.Pada masa pemerintahan KA Bustam, Beliau mengusir seorang seorang ulama atau seorang guru dari KA Siasip yang bertekad mengIslamkan semua dukun-dukun yang masih menganut ajaran nenek moyangnya. KA Bustam adalah penganut kental ajaran mistis yang diturunkan oleh kakeknya Ki Mending. Pengaruh Ulama Islam begitu mengusik pikiran KA Bustam, ia Khawatir itu akan menjadi ancaman bagi kedudukannya, karena ia menyadari jika tahtanya bukanlah haknya meski sudah diserahkan KA Siasip sepenuhnya.
Tahun 1705 KA Bustam mengangkat seorang ulama dari Mempawah, Datuk Ahmad yang dikenal dengan sebutan Datuk Mempawah untuk menjadi ngabehi di Belantu. Ulama Mempawah ini masih toleran dengan ajaran mistis atau adat perdukunan juga masih menghormati adat kematian seperti acara bilangari.KA Siasip terus bertekad dengan cara untuk meluruskan ajaran islam sejatinya meski dapat tantangan dari pamannya sendiri. Dan pada waktu itu masuk lagi seorang ulama dari Pasai bernama Syech Abubakar Abdullah, beliau masuk lewat sungai Buding dan berdiam di Ngabehi Buding, di sini beliau mengIslamkan seorang sakti bernama Tuk Kundo. Namun kemudian Syech Abubakar Abdullah berhasil dibunuh oleh KA Bustam, setelah beradu kesaktian masing-masing. Syech Abubakar Abdullah dimakamkan di Gunung Tajam yang terkenal dengan sebutan Keramat Datuk Gunong Tajam. Mendengar kejadian itu, Datuk Ahmad atau Datuk Mempawah jadi kurang simpati lagi kepada raja yang membunuh ulama hingga beliau khawatir dengan keselamatannya dan kemudian minta perlindungan kepada Sultan Pontianak. Tahun 1641 ketika menuju Pontinak, meninggal di sana dan di makamkan di Mempawah


Seorang anak laki-laki Datuk Ahmad bernama Tining menikahi perempuan keluarga raja dan Tining diberi gelar Ki Agus. Dan nampaknya KA Tining adalah orang luar pertama yang mendapatkan gelar Ki Agus. Tahun-tahun berikutnya laki-laki yang mengawini perempuan keluarga raja selalu diberi gelar. Misalnya anak KA Munti yang bernama NA Kumal menikahi Saidin. Dan Saidin diberi gelar hingga menjadi KA Saidin. Keturunan mereka kemudian menggunakan gelar KA untuk laki-laki dan perempuan tidak NA tapi sebutan Dayang. Tradisi pemberian gelar dimaksudkan agar kedekatan anggota keluarga menjadi tidak merasa asing.Cakraninggrat IV KA Bustam dimakamkan di Balok Baru, satu kompleks dengan KA Mending dan KA Siasip.
Tahun 1740-1755, Depati Cakraninggrat V, KA Abudin menggantikan ramondanya KA Bustam. Pada masa pemerintahan KA Abudin Balok mengalami kemunduran. Pemerintahannya kurang mendapat simpati wataknya yang otoriter seperti ramondanya KA Bustam yang keras hingga banyak tak di sukai oleh penduduk juga para pedagang dan pendatang. Sikap itu membuat adiknya yaitu KA Usman menjauhi istana dan mendirikan pemukiman baru di sungai Cerucuk. Sikap itu pula yang membuat Ngabehi Belantu mesti mengantarkan upeti dan tunduk ke Palembang tidak ke Balok, namun di masa berikutnya sudah menjadi tradisi maka Ngabehi Belantu mengantar upeti ke Mentok karena Palembang oleh Sultan Badarrudin menyerahkan Mentok pada Wan Abduljabar dari Johor sejak tahun 1724.Sikap masyarakat di kerajaan Balok terpecah menjadi dua hingga mereka yang tidak puas dengan pemerintahan KA Abudin mengadu kepada KA Usman. Karenanya, KA Usman meminta bantuan pada Sultan Palembang, pengaduan ini membuat KA Abudin marah hingga pertentangan tak terhindarkan. Perkelahian tak dapat ditawar, peristiwa ini dikenal dengan sebutan “begaris tanah” tak ada yang kalah dalam peristiwa di tepi sungai Berutak ini. Namun utusan Palembang telah datang menjemput KA Abudin. KA Abudin tidak diperkenankan pulang ke Belitung, ia menikah lagi di Palembang. Keturunan KA Abubin hingga kini tetap menyandang gelar KA atau Ki Agus. Raja ke V ini meninggal di Palembang dan dimakamkan di Pelayang. Konsekwensi atas bantuan Sultan Palembang kepada KA Usman ini, menyebabkan KA Usman mesti mengirimkan 1000 (seribu) keping besi ke Palembang pada setiap tahunnya. KA Usman kemudian membagi wilayah kekuasaan kepada anak-anak KA Abudin yang ditinggalkan. Yang tertua KA Rantie tetap mendiami Balok, KA Gunong Kurung berdiam di gunung labu tempat asal neneknya Putri Gunong Labu. KA Munti di beri wilayah di sekitar Gunung Petebu sekarang Parit Tebu (cikal bakal distrik Lenggang, wilayah ini kaya oleh tambang besi di gunung Selumar), dan Nyi Ayu Muncar ikut tinggal ke salah seorang abangnya. Oleh KA Usman, KA Munti yang kemudian dinikahkan dengan Nyi Ayu Busu yaitu anak dari KA Usman sendiri. Perkawinan antar sepupu ini dimaksudkan agar kedua keluarga yang dulu berseteru kini kembali dekat. Perkawinan itu melahirkan KA Luso, NA Tenga, NA Kumal. KA Luso kemudian menurunkan KA Jalil. Keluarga ini dikenal dengan sebutan bangsawan Gunong Petebu.
Tahun 1755-1785, Depati Cakraninggart VI, KA Usman, pada masa beliau pusat pemerintahan dipindahkan dari hulu sungai Balok ke hulu sungai Cerucuk yang di kenal dengan sebutan Kota Karang . Di saat membuka lahan dan membangun Cerucuk maka mesti membuat dermaga dengan kade-kade di tepian sungai agar kapal dan perahu bisa ditambatkan dengan baik. Pembuatan dermaga ditepian sungai ini memerlukan banyak sekali kayu yang digunakan untuk cerucuk atau penahan pinggiran. Dengan banyaknya kayu cerucuk ini maka sungai ini pun kemudian oleh para pelayar yang berlabuh di situ menyebutnya dengan nama sungai Cerucuk.
Pada masa pengurukan tanah untuk dermaga, bijih timah tanpa sengaja diketemukan di sini. Berita ditemukannya bijih timah ini sampai pula kepada residen Palembang De Herre hingga pada tahun 1759 mendarat dekat Tanjungpandan untuk beberapa jam meneliti tanahnya. Tapi ia kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada bijih timah di sana (koppong erts) timah kopong adalah pasir yang mirip pasir timah tapi tak memiliki kandungan timah. Konon, pengkopongan pasir timah bisa dilakukan oleh para dukun tanah di Belitung.Pada masa KA Usman bijih timah digali secara tradisional dengan teknologi yang dipelajari dari penduduk Bangka (penduduk Bangka yang sudah dewasa mesti memberikan pajak timah kepada Sultan Palembang yang disebut timah tiban) penggalian bijih timah itu dikenal dengan sebutan sumur palembang.Meskipun begitu bijih timah ini belum bisa dilebur di Belitung maka mesti dilebur di Singkep dulu baru kemudian diperdagangkan ke Johor dan Malaka. Namun nampaknya bijih timah belum menjadi komoditi utama pada masa ini dibandingkan dengan penggalian bijih besi yang sudah digali sejak lama.Pada tahun 1784, di muara dekat pulau Kalamoa, berlabuhlah armada perahu delegasi dari Palembang dipimpin oleh Syarbudin hendak menuju Kota Karang. Rombangan armada perahu KA Usman datang menjemput tapi sekonyong muncul pula armada bajak laut dari arah lain yang dipimpin oleh Syaid Ali dari Siak*) maka pertempuran tak terhindarkan, KA Usman tewas dan mayatnya tak diketemukan hingga beliau dikenal dengan sebutan Depati Hilang dilaut. Perairan laut menjadi tidak aman oleh bajak laut. Sejak kematian KA Usman pengiriman upeti berupa bijih besi ditiadakan hubungan Belitung dengan Palembang terputus, Bangka mengalami hal yang sama apalapi para bajak laut selalu merampok tambang-tambang timah di Bangka, terutama bajak laut dari Lingga yang dipimpin oleh Panglima Raman.
Tahun1785-1815, Depati Cakraninggrat VII KA Hatam memerintah. menggantikan ramondanya KA Usman yang tewas di laut . KA Hatam, mendatangkan para penggali timah dari China di Johor lewat Tumasik. Hubungan dengan orang China ini, menyebabkan KA Hatam mengambil istri kedua seorang China yang kemudian menjadi mukhalaf dengan gelar Dayang Kuning.
Perdagangan timah terus berlanjut secara diam-diam setelah dilebur di Singkep kemudian dibawa ke Johor dan Malaka lewat Tumasik. Seorang akhli pertimahan bernama Tuk Munir dari Singkep didatangkan.
Tahun1786, setelah Inggris menguasai Pulau Pinang dan sekitarnya, perdagangan timah dari Belitung dihentikan oleh Depati sendiri. Palembang mulai dipengaruhi Inggris untuk mengusir Belanda, Inggris memberikan bantuan persenjataan hingga pada 14 September 1811 terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap orang Belanda. Pada tahun 1812 Inggris menguasai Palembang.
Tahun 1813, Inggris oleh Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan Jendral Gillespie menguasai Palembang, terus Mayor W. Robinson meduduki Bangka kemudian mengutus Tengku Akil dari Siak guna menguasai Belitung. Tengku Akil mendapat perlawanan, dalam peretempuran itu Depati KA Hatam tewas dengan kepala terpotong atau terkerat. Anaknya yang masih berusia muda, KA Rahad dan beberapa saudaranya yang lain berhasil diselamatkan sepupunya KA Luso. KA luso dan orang-orang berhasil mengusir Tengku Akil hingga tengku Akil lari ke bersembunyi di Pulau Lepar dan kemudian tahun 1820 Tengku Akil menjadi kaki tangan Belanda di Bangka tapi mendapat perlawanan pula oleh Demang Singa yuda dan Juragan Selan hingga perahu dan pasukannya ditenggelamkan.

*) Berdasarkan Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap; Raja yang bertahta pada sekitar tahun 1780 adalah raja Ismail, ia merupakan salah seorang bajak laut terbesar. Sejak dulu Siak adalah kerajaan maritim yang kuat. Satuan-satuan angkatan Siak sering menyerang Johor, Malaka, dan berbagai tempat di pantai barat dan timur semenanjung. Sebagian besar daerah-daerah timur Sumatra dari Langkat sampai Jambi, konon takluk pada Siak. - William Marsen “Sejarah Sumatra” .hal.211. Terjemahan A.S Nasution dan Mahyudin Mendim. PT.Remaja Rodakarya, Bandung, Th. 1999.
Tahun 1821-1854, masa perjuangan dan pemrintahan Depati Cakraninggrat VIII, KA Rahad. Upaya Hindia Belanda untuk menguasi Belitung dan mencari bijih timah.Setelah KA Hatam meninggal, terjadi ketidak lancaran pemerintahan karena KA Rahad yang masih muda untuk menjadi raja. Para pekerja parit timah di cerucuk mengungsi dengan membuka pemukiman baru di tepi Sungai Seburik.Pada 20 pebruari 1817 Palembang diserahkan kembali oleh Inggris ke Belanda. Kemudian pada 21 Oktober 1821, datanglah Syarif Mohamad dari Palembang guna membuka jalan bagi masuknya Belanda ke Belitung dan mengibarkan untuk pertama kali bendera Belanda di Tanjung Simba. Syarif Mohamad mencoba untuk menguasai kedudukan Depati KA Rahad yang masih berusia muda, tapi upaya itu tak berhasil. Tahun 1822, Kapten bangsa Belgia, J.P. de la Motte datang dengan pasukannya, mendarat di Tanjung Gunung, namun ia dapat diusir oleh KA Rahad hingga bergabung dengan Syarif Muhamad di Tanjung Simba.KA Rahad dan orang-orang mendirikan benteng di Tanjung Gunung karena benteng Kute di Cerucuk terlalu jauh untuk berhadapan dengan orang asing yang masuk ke Belitung lewat muara sungai cerucuk. Kekhawatiran J,P. De la Motte cukup beralasan untuk menghadapi KA Rahad di Tanjung Gunung maka dengan bantuan orang-orang China di Seburik, ia membangun Benteng di Tanjung Simba (Belakang Museum Tanjungpandan)Tahun 1823, J.P. de la Motte meninggalkan Belitung karena usahanya untuk menemukan bijih timah gagal dan ia digantikan oleh J.W. Bierschel yang dikawal oleh Kapten Kuehn.
J.W. Bierschel menjadi asisten resident pertama dari resident yang ada di Mentok Bangka. J.W. Bierschel dalam kepentingannya mencari bijih timah. Pegawai Hindia Belanda ini cukup lunak dan bijaksana dalam menghadapi KA Rahad dan orang-orangnya. Ia bahkan mengusulkan agar hak-hak KA Rahad diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sikap Lunak ini membuat KA Rahad memberikan kesempatan untuk tinggal di Benteng Tanjung Gunung. Dan KA Rahad kemudian membangun rumah kediaman barunya (menurut manuskrip KA Abdul Hamid tahun 1934, istana KA Rahad antara Palmenlaan dan Heerenstraat) di situlah Depati KA Rahad mulai mengendalikan pemerintahannya, nampaknya ini awal berdirinya kota Tanjungpandan.
Sikap akomodatif dari asisten resident J.W. Bierschel terhadap KA Rahad, membuat Syarif Muhamad merasa tidak senang karena seolah mengacuhkan dirinya yang sebelumnya telah dipercayakan untuk menguasai Belitung dan Syarif Muhamad pun pulang pada tahun 1824 dan mengadukan tindak-tanduk J.W. Bierscel kepada resident di Mentok hingga tahun 1826, J.W. Biercshel ditarik pulang. Sebenarnya bukan alasan itu ia ditarik pulang tapi karena untuk penghematan anggaran saja karena pencarian timah oleh J.W. Bierschel gagal disebabkan Depati Rahad menolak untuk melakukan penggalian-penggalian. KA Rahad takkan memberikan kesempatan penggalian timah sebelum hak-hak kekuasaannya diakui oleh Belanda. Resident menerima laporan jika tidak ada timah di Belitung, tapi Syarif Muhamad mengetahui jika Depati KA Rahad tak memberikan kesempatan penggalian. Maka pada tahun itu juga 1826, Syarif Muhamad dengan pasukannya datang lagi ke Belitung, tapi ia dapat di halau hingga kembali ke Bangka tapi kemudian ia berhasil dibunuh hingga tewas di Mentok
Belitung kembali kosong dari kaki tangan Belanda tapi bendera Belanda di Tanjung Simba mesti tetap tegak. Karena itu, untuk menggantikan kekosongan maka Belitung diserahkan oleh Belanda kepada Syarif Hassim dari Lingga. Namun Syarif Hassim tak berumur panjang, ia tewas pula dan dimakamkam di sebelah penjara TanjungPandan.
Tahun 1830, Belanda di Palembang melihat ketidakmampuan resident Mentok untuk mengendalikan Belitung dibawah Depati KA Rahad. Maka Belanda mengutus Syarif Hasan, tapi pada tahun 1835. Syarif Hasan melarikan diri dan melaporkan semua kegagalan upayanya untuk menundukkan Depati KA Rahad. Untuk keberapa kalinya resident Belanda di Mentok kewalahan tapi Belitung tetap dibawah tangungjawabnya, karenanya tahun 1837 oleh Belanda, Belitung dipercayakan kepada Mas Agus Mohamad Asik dari Pulau Lepar. Tapi ia juga hanya bisa bertahan sampai awal tahun 1838.
Mas Agus Mohamad Asik, sesungguhnya tidak mengadakan perlawanan terhadap Depati KA Rahad. Tapi ia tidak disukai di Belitung karena ia adalah keturunan bajak laut, rupanya dendam terbunuhnya Deptai KA Usman oleh para bajak laut masih diingat oleh kelurga depati. Bukan saja itu pada masa itu juga, pemerintah pusat Belanda di Batavia, memberikan tugas khusus kepada J.J Roy seorang Prancis, guna membasmi bajak laut yang berada di perairan Belitung. J.J. Roy kemudian mengetahui jika Palembang lewat Adipati atau menteri utamanya terang-terangan melindungi para bajak laut. Atas jasa inilah J.J Roy menjadi resident sementara di Pelembang.
Pada tahun itu juga sebelum bulan Juli. Belanda mengirim tim ekspedisi yang dipimpin oleh Kolonel P.C. Riedel, guna menyelidiki dan mencari tahu tentang sikap Depati yang tak dapat ditundukkan oleh sekian orang pemimpin baik Belanda atau pun pribumi sendiri. Namun KA Rahad tidak mau bertemu dengan Kolonel P.C. Riedel. Namun ia nampaknya sudah cukup mendapat keterangan dari beberapa pihak atas keinginan KA Rahad. Maka P.C. Riedel juga mendengar anjuran Residen Bangka de Haase serta mantan asistent residen Belitung J.W. Bierschel, agar mengakui hak-hak KA Rahad sebagai Depati Belitung maka 1 Juli 1838, KA Rahad diakui Belanda sebagai Depati Belitung.
Setelah KA Rahad diberi keleluasaan memegang pemerintahan, beliau membagi wilayah Belitung menjadi 6 distrik yang sebelumnya baru ada 4 ngabehi. Agaknya KA Rahad mulai menggunakan istilah distrik untuk mengganti istilah ngabehi karena Belanda mulai mendata wilayah itu dengan menulis dan menyebutkan kata distrik untuk wilayah Ngabehi. 2 distrik baru itu adalah Tanjungpandan dan Lenggang. Kedua distrik ini tidak dipimpin oleh ngabei tapi langsung oleh keluarga raja, Disrik Tanjungpandan dipimpin oleh KA Mohamad Saleh, sedangkan Distrik Lenggang oleh KA Luso karena wilayah Lenggang sudah diwariskan oleh Depati Cakraninggrat VI KA Usman kepada KA Munti, ramonda KA Luso
           Tahun 1850 Dr. J.H. Croockewit diutus oleh pemerintah Hindia Belanda
untuk mengadakan lagi penyelidikan adanya kemungkinan bijih timah di
Belitung, namun sekali lagi ia gagal dan tidak mendapat bantuan dari
Depati Rahad ataupun dari rakyat. Pada 28 juni 1851. Para eksplorer
timah berangkat dari Mentok dengan membawa surat resmi kepada Depati KA
Rahad. Mereka adalah, J.F. Loudon, Van Tuyll, Corns de Groot, dan Den
Dekker. Nampaknya Depati KA Rahad masih tetap mengatakan jika bijih
timah tidak ada di Belitung, namun tentu saja para ekplorer ini tidak
puas dan mengatakan jika misi mereka tidak berhasil maka akan ada misi
berikutnya yang akan datang sampai timah ditemukan.Den Dekker terus
mencari tahu dari penduduk dan ia mendapat keterangan jika ada seorang
melayu yang akan menunjukkan adanya timah di Beltiung, orang itu
dulunya pekerja parit timah pada KA Hatam di Cerucuk, Tuk Munir dari
Singkep. Tuk Munir lah yang menunjukkan adanya timah di dekat sungai
Seburik.Maka terbukalah rahasia yang selama ini dijaga oleh Depati KA
Rahad. Dan KA Rahad tak dapat menghindar lagi kemudian memerintahkah
kepada orang-orangnya untuk menunjukkan di mana saja ada terdapat bijih
timah. Sejak itu terjadilah kerjasama pencarian bijih timah ke seluruh
penjuru pulau Belitung dilakukan dengan didampingi oleh KA Luso dan KA
Jalil sebagai mewakili Depati.Para Pencari bijih timah yang dapat
bekerjasama dengan baik pada keluarga depati, dan penggalian-penggalian
mulai dilakukan. Kandungan timah di Belitung begitu banyak sehingga
resident Bangka mulai menunjukkan gelagat untuk mengatur Belitung.

Tahun 1852 Atas desakan J.F. Loudon, Belitung memisahkan diri dari
keresidenan Bangka dan bertanggungjawab langsung ke Batavia. Ini
merupakan satu-satunya asistent residen di Hindia Belanda yang tidak
menjadi bawahan resident.Tahun 1854 Depati KA Rahad meninggal dunia, di
makamkan di Air Labu Kembiri.

Tahun 1856-1873, Depati Cakraninggrat IX, KA Mohamad Saleh alias KA
Saleh, menggantikan abangnya KA Rahad karena tidak menurunkan putra
mahkota. Naiknya KA Saleh maka posisi kepala distrik Tanjungpandan
dipegang oleh KA Jalil.

Tahun 1856, orang-orang China mulai didatangkan secara berkala untuk menjadi pekerja parit timah di Belitung.

Tahun 1860, 15 November, perusahaan penambangan timah berdiri dengan
nama Billiton Maatschappy. Depati KA Mohamad memiliki saham atas parit
timah di Bengkuang. Parit Bengkuang ini merupakan cikalbakal lahirnya
Kota Manggar. Tahun 1864, ekploitasi timah mulai diusahakan hampir di
seluruh Belitung, pada masa ini jalan raya yang menghubungkan ke semua
distrik dibangun dibawah pengawasan KA Jalil. Pembangunan jalan ini
menghabiskan waktu 8 tahun dengan janji oleh Belanda bahwa usai
pembangunan jalan, penduduk Belitung akan disejahterakan.

Tahun 1866, Billiton Maatschappy masih terus mendatang pekerja dari
China hingga berjumlah 2724 orang. Banyaknya orang China ini maka oleh
Belanda perlu pengawasan oleh komunitas mereka sendiri. Di Wilayah
Tanjungpandan dipimpin oleh Kapten Ho A Jun dan di Manggar di pimpin
oleh seorang Letnan China serta di beberapa wilayah penambangan yang
disebut dengan “wijkmeester” . J.F Loudon juga mempekerjakan seorang
jurutulis China Phang Tjong Tjun.

Tahun 1870, di tepi Sungai Seburik dibangun dermaga tempat tambat
kapal, juga dibukanya sekolah untuk orang Tionghoa.Tahun 1870-1875,
penduduk diharuskan menanam pohon kelapa.Tahun 1870, mesjid Jami’
Tanjungpandan dibangun.Tahun 1871, didirikan gedung sositet di
TanjungpandanTahun 1872, 12 Oktober, jalan raya di seluruh Belitung
selesai dibangun dibawah pengawasan KA Jalil.

Tahun 1873, KA Saleh sudah uzur, mengundurkan diri jadi depati. Pada
tahun ini juga Pangkat Depati dihapuskan oleh Belanda. Dan semua tugas
pemerintahan dialihkan kepada KA Jalil.Tahun 1874, KA Jalil menagih
janji pada Belanda tentang kesejahteraan rakyat Belitung maka sekolah
rakyat pertama dibangun, dengan dua kelas di Tanjungpandan.

Tahun 1876, KA Saleh meninggal dunia dan tak menurunkan putra mahkota,
beliua dimakamkan dekat makam ramondanya KA Rahad di CerucukTahun 1879,
sekolah rakyat dibangun di Manggar sebanyak dua kelas.

Tahun 1879-1890, Depati Kepala Distrik Belitong, KA Endek. Setelah KA
Saleh meninggal dan pemerintahan digantikan oleh KA Jalil, tapi
kemudian Pemerintah Hindia Belanda sekonyong-konyong mengeluarkan surat
keputusan dengan Belsuit GG tgl 17 Januari 1879 No. 9, untuk mengangkat
KA Endek menjadi Depati Kepala Distrik Belitong. Keputusan ini membuat
ketidak senangan dari KA Jalil karena setelah Depati KA Saleh berhenti
dari jabatan depati, Belanda telah menyerahkan pemerintahan kepada
dirinya.Alasan pengangkatan KA Endek jelas sekali karena karir KA Endek
seorang administratur jika dibandingkan dengan KA Jalil yang menurut
Belanda hanya cakap secara adat untuk menguasai rakyatnya. Karena itu,
secara adat para ngabehi di tiap distrik hanya setia pada KA Jalil
hingga beliau meninggal tahun 1887, dan dimakamkan di pekuburan Nunuk
Tanjungpandan.

Karir KA Endek yang bekerja pada instansi Belanda dimulai menjadi
kepala polisi dengan Belsuit GG tgl 19 Agustus 1854 No.2. kemudian
menjadi Hoofd Jaksa dengan Belsuit GG tgl 26 Agustus 1867 No 5. Dengan
memakai kekuasaan KA Endek yang menjadi depati kepala kepala distrik,
Belanda menerapkan pajak kepada rakyat Belitung yaitu, Pajak kepala,
Heerendienst dan Gardoedienst. Pajak itu mulai berlaku tahun 1881.
Dengan bertambahnya pendapatan rakyat maka dikenakan pula macam-macam
cukai seperti Pachter, Candu, Arak, Babi, Perjudian, dan lain-lainnya.

Pada tahun 1890, KA Endek diberhentikan dengan Belsuit GG 5 April 1890
No.6 dan atas jasanya ia diberi lencana emas kecil yang bertuliskan
“Ngabehi KA Endek” setahun kemudian beliau berangkat ke Tanah Suci
Mekkah dan meninggal dunia di sana.

Karena kedudukan dan pangkat depati dihapuskan Belanda maka untuk
menjaga hubungan baik antara pemerintahan Belanda dengan keluarga raja
maka semua kepala distrik diangkat dari keluarga Depati Cakraninggrat,
akibatnya beberapa distrik yang sebelumnya dipimpin oleh turunan
ngabehi dihapus kekuasaannya oleh Belanda.

Pada Tahun 1890, distrik Sijuk dan Belantu dihapuskan menjadi
kelurahan. Namun Distrik baru pun dimunculkan oleh Belanda yaitu
Manggar dan Dendang. Distrik yang dipertahankan adalah Buding, Badau,
Lenggang, dan Tanjungpandan, semua kepala distrik ini digaji oleh
pemerintah Hindia Belanda.

Pada Tahun 1892, Sebutan “Ngabehi” sebagai kepala distrik dihapuskan
oleh Belanda maka mulai saat itu hanya dikenal kepala distrik saja
meski pun begitu, sebutan untuk Ngabehi kepada kepala distrik secara
adat tetap dipakai oleh rakyat, namun kemudian redup ditelan
zaman.Tahun 1896, di Manggar dibangun gereja katolik kecil di
Samak.Tahun 1898, moderninasi alat-alat perusahaan timah, adanya
lokomobil, serta hubungan telpon.Tahun 1903, adanya pesawat telegram
untuk berhubungan dengan Pulau Jawa. Tahun 1905, Distrik Kelapakampit
muncul dan penduduk pribumi Belitung menjadi 39.483 sedangkan peduduk
China berjumlah 22.670 karena itu dibutuhkan sekali untuk menempatkan
seorang “Civil Gezaghebber” di Manggar sebagai pembantu asisten
resident.

Tahun 1908, didatangkan mobil pertama ke Belitung.Tahun 1909,
pembangkit listrik dibangun di Manggar (EC)Tahun 1914-1918 pembukaan
sekolah rakyat di Sijuk, Dendang, Lenggang, serta di Tanjungpandan
dibuka H.I.S (Hollandsch Indonesische School)Tahun 1915, pencanangan
hutan cadangan, adanya pelarangan penebangan kayu di hutan lindung.

Tahun 1915, pasar Manggar terbakar seluruhnya. Tahun 1917, pembangunan
gedung sandiwara di Tanjungpandan, gedung ini kemudian menjadi bioskop
Garuda, kini pasar swalayan Puncak.Tahun 1921, harga timah merosot
setelah berakhirnya perang Dunia I, maka Hindia Belanda mengadakan
penghematan besar-besaran terhadap anggarannya

Tahun 1921, Demang pertama KA Abdul Adjis. Tepatnya tanggal 28 Juni
1921 asistent resident ALM Clignett, menjadikan Belitung Rechte
Gemeencshap Billiton, berkedudukan di Tanjungpandan dan dipimpin oleh
seorang Demang, serta asistent demang yang berkedudukan di Manggar dan
Dendang. Ini bagian dari penghematan anggaran pemerintah Hindia Belanda
sesudah perang dunia I.Tahun 1924, tanggal 9 September. Billiton
Maatschappy diubah menjadi NV GMB atau NV. Gemeenscha Pelyke Mynbouw
Maatschappy Billiton. Tahun 1926, Raad Van Beheer NV GMB mendirikan
Dana Kesejahteraan Rakyat Belitung (Bevolkingsfonds Billiton) guna
mengenang 75 tahun berdirinya Maatschappy Billiton. Dana tersebut
digunakan untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat
Belitung maka didirikan Jawatan kesehatan Rakyat, kemudian Sekolah
pertukangan (Ambaschtscursus) di Manggar.Tahun 1927, asistent resident
mengadakan sekolah desa pertama.Tahun 1929, diusahakan untuk membuat
perkebunan lada.

Tahun 1930-an Belitung tekena juga dampak krisis dunia, pertambangan
timah banyak ditutup dan para pekerja diberhentikan, termasuk
pertambangan bijih besi dan tembaga di Gunung Selumar.

Tahun 1933, 1 Maret, Belitung menjadi Onderafdeling dari dari
Keresidenan Bangka, sejak terpisah tahun 1852 karena tahun 1852
asistent resident Belitung langsung bertanggungjawab ke Batavia. Tahun
itu juga kedudukan dan pangkat “Civil Gezaghebber” di Manggar
ditiadakan.Tahun 1935, Belitung dibagi menjadi dua distrik, Belitung
Barat dan Belitung Timur masing-masing dikepalai seorang Demang.Tahun
1935, Demang membuat kebijakan membuka percobaan perkebunan, singkong,
kacang, jagung, dan pepaya yang bibitnya didatangkan dari jawa.Tahun
1936, Demang pula membuat kebijakan pembukaan sawah di Perpat, Mentigi,
tapi mengalami kegagalan.

Belitung menerima dampak perang dunia II dan harga timah melonjakTahun
1940, Jerman menduduki negeri Belanda maka Hindia Belanda mesti membuat
kebijakan sendiri.

Tahun 1941, Hindia Belanda menyatakan perang kepada Jepang.Tahun 1942,
28 Februari, Jepang melakukan serangan udara terhadap Belitung. Ini
menimbulkan kepanikan luar biasa, sekolah ditutup, orang-orang kota
bersembunyi ke hutan dan kampung-kampung. Orang Eropa dievakusi ke
Jawa, dua buah kapal yang membawa mereka ditenggelamkan.Tahun 1942, 10
April, Jepang masuk ke Belitung, pegawai NV GMB di internir. Demang KA.
Moh.Yusup ditunjuk Jepang sebagai Pengganti asistent residen untuk
waktu tiga bulan dan bertanggung jawab kepada komandan militer.Tahun
1943, Januari, sekolah-sekolah dibuka lagi, upaya mendatang bahan
makanan untuk rakyat. Perbaikan besar-besaran terjadi termasuk
pembukaan tambang-tambang timah. NV GMB dirubah menjadi MKK yaitu
“Mitsubishi Kogyoka Kaisha”. Tambang terowongan di Gunung Selumar
dibuka lagi khusus untuk menggali bijih besi dan tembaga.

Tahun 1943, peladangan padi dibangun Jepang di Perpat selama 6 bulan
dan menghasilkan 800 ton padi ladang.Tahun 1943, Jepang membuka
pelabuhan bebas, Belitung berkembang pesat dan ramai, dibuka sekolah
pertukangan perahu di Manggar. Dan perahu-perahu 50 ton ke atas
dibangun.

Tahun 1943, Pelabuhan udara di Buluh Tumbang dibangun untuk kepentingan
militer, sampai akhir perang dunia II sarana itu belum selesai.Tahun
1945, Jepang membentuk Badan Kebhaktian Rakyat yang bertugas membantu
pemerintahan jepang, badan ini dibubarkan usai perang.Tahun 1945, 6
September, pejabat kepala daerah mendapat surat kawat dari resident
Bangka, berisi tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan perintah
untuk membentuk Komite Nasional Indonesia yang bertugas mengambil alih
kekuasaan dari tangan Jepang, namun Jepang meninggalkan Belitung sudah
pada bulan Agustus. Komite belum terbentukTahun 1945, KA Moh. Yusup
pulang dari Bangka bersama dengan R.M Joedono, mengambil alih pimpinan
pemerintahan dan segera mengadakan rapat-rapat dengan pemuka rakyat,
juga tiga orang utusan Resident Bangka untuk segera membentuk Komite
Nasional Indonesia.

Tahun 1954, 18 Oktober, dengan pesawat terbang, 3 orang mantan pegawai
GMB mendarat di Tanjungpandan dan langsung menuju kantor pemerintahan
daerah yang saat itu sedang diadakan pembentukan Komite Nasinal
Indonesia, pada hari itu komite terbentuk.

Tahun 1954, 21 Oktober, Belitung diduduki tentara Belanda yang
membonceng tentara sekutu. Perintah resident Bangka untuk menyambut
mereka dengan baik, tapi masyarakat melakukan perlawan pasif. Ada
rencana melakukan perlawanan aktif yang diatur oleh R Margono, dia
mantan polisi.Tahun 1945, 24-25 Nopember pasukan rakyat dari Sijok, Aik
Selumar, Aik seruk, bergerak ke pusat kota TanjungPandan untuk menyerbu
tentara Belanda, perlawanan tak seimbang menghadapi senjata moderen
Belanda hingga ada yang gugur dan penyerbuan itu pun mundur. Atas
perlawan ini beberapa pemimpin rakyak ditangkapi oleh Belanda.

Tahun 1945, 14-19 Desember, perlawanan terhadap tentara Belanda yang
dipimpin oleh FFJ. Manusama terjadi di Pulau Mendanau, guna menghadang
pendaratan tentara Belanda yang menggunakan kapal perang “Admiraal
Trom”Tahun 1946, Belanda membentuk “Dewan Belitung Sementara” diketuai
kepala pemerintahan Belanda.

Tahun 1947, Desember, Dewan Belitung Sementara menjadi Dewan Belitung
yang beranggotan 18 orang, diketuai oleh KA Moh.Yusup. Sejak itu
Belitung menjadi otonom yang langsung berada dibawah pemerintah pusat
Jakarta. Tahun 1947, selama 4 bulan pegawai GMB mengadakan pemogokan
untuk memprotes pendudukan tentara Belanda di Belitung. Karena aksi ini
maka GMB mengadakan perubahan kebijakan terhadap pegawainya dengan
memberikan berbagai insentif. Selanjutnya melakukan modernisasi
terhadap alat-alat produksinya.

Tahun 1948, Januari, Dewan Belitung bergabung dengan Dewan Bangka dan
Dewan Riau, menjadi satu Negara Federasi BABERI (Bangka Belitung Riau)
yang disyahkan pada 23 Januari 1948. Sebagai Negara Federal Bangka
Belitung dan Republik Inonesia Serikat (RIS) mengirim utusan dalam KMB
(Konprensi Meja Bundar di Den haag Belanda, tahun 1949) mewakili Bangka
oleh Saleh Acmad dan Dr, Liem Chai Lie dan mewakili Belitung KA Moh.
Yusup.Tahun 1950, 4 April, Dewan Belitung dibubarkan bersamaan bubarnya
Negara Federal dan Belitung bergabung dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Tahun 1950, 21 April, Perdana Menteri Dr. Halim bersama
dengan Gubernur sumatera Selatan Dr. M. Isa berkunjung ke Bangka. Dan
Bangka Belitung diserahkan kepada gubernur Sumatera Selatan untuk
menjadi bagian Provinsi Sumatera Selatan. Keputusan itu baru tertuang
dalam Undang-Undang Darurat No. 3. Tahun 1956.

Tahun 1950, 27 April, Presiden Soekarno mengunjungi Belitung.Tahun
1968, 29 September, di Hotel Tanjung Kelayang diadakan rapat, dihadiri
utusan Kabupaten Bangka, Kodya Pangkalpinang, Kabupaten Belitung, guna
persiapan Pembentukan Provinsi Bangka Belitung, memisahkankan diri dari
Provinsi Sumatera Selatan, munculnya Deklarasi Tanjung Kelayang.

Sejarah Pulau Bangka



1. Asal Muasal Pulau Bangka
Sejarah Asal Mula Pulau Bangka
Indotoplist.com : Sejarah mengungkapkan bahwa Pulau Bangka pernah dihuni oleh orang-orang Hindu dalam abad ke-7. pada masa Kerajaan Sriwijaya pula Bangka termasuk pula sebagai daerah yang takluk dari kerajaan yang besar itu. Demikian pula kerajaan Majapahit dan Mataram tercatat pula sebagai kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Pulau Bangka. Namun pada masa itu pulau Bangka baru sedikit mendapat perhatian, meskipun letaknya yang strategis ditengah-tengah alur lalu lintas setelah orang-orang daratan Asia maupun Eropa berlomba-lomba ke Indonesia dengan ditemukannya rempah-rempah. Kurangnya perhatian dari para bajak laut yang menimbulkan penderitaan bagi penduduknya.
Sejarah Asal Mula Pulau  Bangka
Untuk mengatasi kekacauan yang terjadi, Sultan Johor dengan sekutunya Sutan dan Raja Alam Harimau Garang. Setelah melakukan tugasnya dengan baik, juga mengembangkan Agama Islam ditempat kedudukannya masing-masing Kotawaringin dan Bangkakota. Namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, kemudian kembali pulau Bangka menjadi sarang kaum bajak laut.

Karena merasa turut dirugikan dengan dirampasnya kapal-kapalmya maka Sultan Banten mengirimkan Bupati Nusantara untuk membasmi bajak-bajak laut tersebut, kemudian Bupati Nusantara untuk beberapa lama memerintah Bangka dengan gelar Raja Muda. Diceritakan pula bahwa Panglima Banten, Ratu Bagus yang terpaksa mundur dari pertikaiannya dengan Sultan Palembang, menuju ke Bangka Kota dan wafat disana.

Setelah Bupati Nusantara wafat, kekuasaan jatuh ketangan putri tunggalnya dan karena putrinya ini dikawinkan dengan Sultan Palembang, Abdurrachman (1659-1707), dengan sendirinya pulau Bangka menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.

Pada tahun 1707 Sultan Abdurrachman wafat, dan ia digantikan oleh putranya Ratu Muhammad Mansyur (1707-1715).

Namun Ratu Anum Kamaruddin adik kandung Ratu Muhammad Mansyur kemudian mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang, menggantikan abangnya (1715-1724), walaupun abangnya telah berpesan sebelum wafat, supaya putranya Mahmud Badaruddin menyingkir ke Johor dan Siantan, sekalipun secara formal sudah diangkat juga rakyat menjadi Sultan Palembang.

Tetapi pada tahun 1724 Mahmud Badaruddin dengan bantuan Angkatan Perang Sultan Johor merebut kembali Palembang dari pamannya.

Kekuasaan atas pulau Bangka selanjutnya diserahkan oleh Mahmud Badaruddin kepada Wan Akup, yang sejak beberapa waktu telah pindah dari Siantan ke Bangka bersama dua orang adiknya Wan Abduljabar dan Wan Serin.
Kemudian atas dasar Konversi London tanggal 13 Agustus 1814, Belanda menerima kembali dari Inggris daerah-daerah yang pernah didudukinya ditahun 1803 termasuk beberapa daerah Kesultanan Palembang. Serah terima dilakukan antara M.H. Court (Inggris) dengan K. Heynes (Belanda) di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816.

Kecurangan-kecurangan, pemerasan-pemerasan, pengurasan dan pengangkutan hasil Timah yang tidak menentu, yang dilakukan oleh VOC dan Ingris (EIC) akhirnya sampailah pada situasi hilangnya kesabaran rakyat. Apalagi setelah kembali kepada Belanda. Yang mulai menggali timah secara besar-besaran dan ang sama sekali tidak memikirkan nasib pribumi. Perang gerilya yang dilakukan di Musi Rawas untuk melawan Belanda, juga telah membangkitkan semangat perlawanan rakyat di Pulau Bangka dan Belitung.
Maka pecahlah pemberontakan-pemberontakan, selama bertahun-tahun rakyat Bangka mengadakan perlawanan, berjuang mati-matian utnuk mengusir Belanda dari daerahnya, dibawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin, dan Tikal serta lainnya.

Kemudian istri Mahmud Badaruddin yang karena tidak serasi berdiam di Palembang diperkenankan suaminya menetap di Bangka dimana disebutkan bahwa istri Sultan Mahmud ini adalah anak dari Wan Abduljabar. Sejarah menyebutkan bahwa Wan Abduljabar adalah putra kedua dari abdulhayat seorang kepercayaan Sultan Johor untuk pemerintahan di Siantan, Abdulhayat ini semula adalah seorang pejabat tinggi kerajaan Cina bernama Lim Tau Kian, yang karena berselisih paham lalu melarikan diri ke Johor dan mendapat perlindungan dari Sultan. Ia kemudian masuk agama Islam dengan sebutan Abdulhayat, karena keahliannya diangkat oleh Sultan Johor menjadi kepala Negeri di Siantan.

Sekitar tahun 1709 diketemukan timah, yang mula-mula digali di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang johor atas pengalaman mereka di semenanjung Malaka. Dengan diketemukannya timah ini, mulailah pulau Bangka disinggahi oleh segala macam perahu dari Asia maupun Eropa.

Perusahaan-perusahaan penggalian timah pun semakin maju, sehingga Sultan Palembang mengirimkan orang-orangnya ke Semenanjung Negeri Cina untuk mencari tenaga-tenaga ahli yang kian terasa sangat diperlukan.

Pada tahun 1717 mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Dengan bantuan kompeni ini, Sultan Palembang berusa membasmi bajak-bajak laut dan penyelundupan-penyelundupan timah. Pada tahun 1755 pemerintah Belanda mengirimkan misi dagangnya ke Palembang yang dipimpin oleh Van Haak, yang bermaksud untuk meninjau hasil timaha dan lada di Bangka. Pada sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin untuk membeli timah monopoli, dimana menurut laporan Van Haak perjanjian antara pemerintah Belanda dan Sultan Palembang berisi :
  • Sultan hanya menjual timahnya kepada kompeni
  • Kompeni dapat membeli timah sejumlah yang diperlukan.

Sebagai akibat perjanjian inilah kemudian banyak timah hasil pulau Bangka dijual dengan cara diselundupkan.
Selanjutnya tahun 1803 pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi yang dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart, yang bermaksud mengadakan penyelidikan dengan seksama tentang timah di Bangka. Perjanjian Tuntang pada tanggal 18 September 1811 telah membawa nasib lain bagi pulau Bangka. Pada tanggal itu ditandatanganilah akta penyerahan dari pihak Belanda kepada pihak Inggris, dimana pulau Jawa dan daerah-daerah takluknya, Timor, Makasar, dan Palembang berikut daerah-daerah taklluknya menjadi jajahan Inggris.

Raffles mengirimkan utusannya ke Palembang untuk mengambil alih Loji Belanda di Sungai Aur, tetapi mereka ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, karena kekuasaan Belanda di Palembang sebelum kapitulasi Tuntang sudah tidak ada lagi. Raffless merasa tidak senang dengan penolakan Sultan dan tetap menuntut agar Loji Sungai Aur diserahkan, juga menuntut agar Sultan menyerahkan tambang-tambang timah di pulau Bangka dan Belitung.

Pada tanggal 20 Maret 1812 Raffles mengirimkan Ekspedisi ke Palembang yang dipimpin oleh Jendral Mayor Roobert Rollo Gillespie. Namun Gillespie gagal bertemu dengan Sultan lalu Inggris mulai melaksanakan politik "Devide et Impera"nya. Gillespie mengangkat Pangeran Adipati sebagai Sultan Palembang denga gelar Sultan Ahmad Najamuddin II (tahun 1812).

Sebagai pengakuan Inggris terhadap Sultan Ahmad Najamuddin II dibuatlah perjanjian tersendiri agar pulau Bangka dan Belitung diserahkan kepada Inggris. Dalam perjalanan pulang ke Betawi lewat Mentok oleh Gillespie, kedua pulau itu diresmikan menjadi jajahan Inggris dengan diberi nama "Duke of Island" (20 Mei 1812).
 

10 Manusia Terpintar Di dunia

banyak yang menyatakan bahwa iq merupakan usia mental yang di miliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis. Tentunya kitapun tidak usah terpatok oleh IQ tinggi karena memang IQ tinggi bukanlah penentu utama kesuksesan seseorang, karena memang faktor yang mendasari kesuksesan seseorang itu beragam yang daintaranya adalah SQ dan EQ. tetapi kitapun jangan mengabaikan IQ, setidaknya kitapun harus sedikit memahami dan mengenal IQ tersebut, karena memang Sejarah telah mencatat bahwa banyak sekali orang ber IQ tinggi yang berpengaruh atau mempunyai pengaruh besar dalam perjalanan peradaban manusia, saya contohkan saja si jenius Albert Einstein, beliau mempunyai IQ 160, dan beliau adalah seorang yang memang sangat jenius dan telah banyak memberikan sumbangsih pada kehidupan manusia. Dan untuk memperlengkap bahasan kali ini yaitu berkenaan dengan orang atau manusia ber IQ tertinggi didunia maka saya membuat list atau daftar dari 100 orang dengan IQ tertinggi di dunia, daftar tersebut dapat anda simak pada list dibawah ini :


1. Leonardo da Vinci Universal Genius,asal Italy, IQ 220

Leonardo lahir di kota Vinci, propinsi Firenze, Italia, pada 15 April 1452. Ia merupakan anak dari Ser Piero Da Vinci dan Caterina, jadi nama lengkapnya yaitu Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero asal kota Vinci. Pada usia belia, Leonardo sudah belajar melukis dengan Andrea del Verrocchio dan mulai melukis di Firenze. Ada kabar mengisahkan Verrochio menyatakan pensiun melukis setelah menyaksikan bahwa lukisan muridnya yang satu ini lebih bagus dari lukisannya sendiri. Selain menjadi pelukis Leonardo juga sanggup menunjukkan kemampuannya di bidang yang lain. Pada tahun 1481 Leonardo pindah ke Milan untuk bekerja dengan Adipati(Duke) di sana. Hasil karyanya selama di Milan yang paling termashur adalah Kuda Sforza yang dikerjakannya selama kurang lebih 11 tahun. Namun di situ ia tidak hanya melukis dan membuat patung saja, melainkan juga mengubah jalan-jalan sungai dan membangun kanal-kanal, serta menghibur Duke dengan memainkan lut dan bernyanyi. Lalu ia bekerja untuk Raja Louis XII dari Perancis di Milan dan untuk Paus Leo X di Roma. Salah satu karya lukisnya yang paling fenomenal yaitu lukisan Monalisa menyatakan bahwa citra perempuan tersebut merupakan hasil rekaan wajah Da Vinci sendiri. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang.

2. Johann Wolfgang von Goethe — Germany 210



Goethe adalah salah satu dari tokoh terpenting dalam dunia sastra Jerman dan Neoklasisme dan Romantisme Eropa pada akhir Abad Ke-18  dan awal Abad ke-19. Ia adalah pengarang Faust dan Zur Farbenlehre (Teori Warna), serta merupakan inspirasi bagi Darwin dengan penemuan terpisahnya terhadap tulang rahang Pramaksilia manusia dan fokusnya kepada Evolusi. Pengaruh Goethe tersebar di sepanjang Eropa, dan selama seabad ke depan karyanya merupakan sumber inspirasi utama dalam Musik, Drama, dan Puisi.

3. Gottfried Wilhelm von Leibniz — Germany 205




Gottfried Wilhem Leibniz atau kadangkala dieja sebagai Leibnitz atau Von Leibniz (1 Juli (21 Juni menurut tarikh Kalender Julian) 1646 – 14 November 1716) adalah seorang filsuf Jerman keturunan Sorbia dan berasal dari Sachen. Ia terutama terkenal karena faham Théodicée bahwa manusia hidup dalam dunia yang sebaik mungkin karena dunia ini diciptakan oleh Tuhan Yang Sempurna. Faham Théodicée ini menjadi terkenal karena dikritik dalam buku Candide karangan Voltaire. Selain seorang filsuf, ia adalah ilmuwan, matematikawan, diplomat, ahli fisika, sejarawan dan doktor dalam hukum duniawi dan hukum gereja. Ia dianggap sebagai Jiwa Universalis zamannya dan merupakan salah seorang filsuf yang paling berpengaruh pada abad ke-17 dan ke-18. Kontribusinya kepada subyek yang begitu luas tersebar di banyak jurnal dan puluhan ribu surat serta naskah manuskrip yang belum semuanya diterbitkan. Sampai sekarang masih belum ada edisi lengkap mengenai tulisan-tulisan Leibniz dan dengan ini laporan lengkap mengenai prestasinya belum dapat dilakukan. Leibniz lahir di Leipzig dan meninggal dunia di Hannover.



4. Emanuel Swedenborg — Sweden 205



Emanuel Swedenborg lahir di Stokholm, Swedia, 8 Febuari 1688 – meninggal di London, Inggris, 29 maret 1772 pada umur 84 tahun  adalah seorang Ilmuan, filsuf, mistikus Kristen, dan Teolog Swedia. Swedenborg memiliki karier yang produktif sebagai seorang Penemu dan ilmuwan. Pada usia lima puluh enam tahun, ia memasuki fase spiritual dalam hidupnya, dan ia mulai mengalami "mimpi dan penglihatan ". Hal ini memuncak sebagai kebangkitan spiritual, di mana ia mengklaim telah ditunjuk oleh Tuhan agar menulis doktrin surgawi untuk mereformasi agama Kristen. Ia mengklaim bahwa Tuhan telah membuka matanya, sehingga sejak saat itu ia bisa bebas mengunjungi surga dan neraka, dan berbicara dengan para malaikat, setan, dan roh-roh lainnya. Selama 28 tahun sisa hidupnya, ia menulis dan menerbitkan 18 karya-karya teologis, yang paling terkenal adalah Surga dan Neraka (1758), dan beberapa karya teologis yang tidak diterbitkan.

5. William James Sidis  — USA 200

William James Sidis jenius. Dia sejauh ini anak intelektual yang paling cepat matang dari generasinya. Kematiannya pada tahun 1944 sebagai figur undistinguished dibuatkesempatan untuk kebangkitan para istri cerita lama tentang kerusakan saraf, terbakar keajaiban dan kegilaan antara jenius. Kehidupan William James Sidis jelas menggambarkan apa psikologi mengajarkan tentangjenius intelektual. Ini adalah pertama lahir dan kemudian berkembang. Kecakapan munculpada usia dini. Ini tidak berakhir lebih cepat dari apapun bakat musik atau artistik.Kekacauan mental tidak karakteristik jenius.

6. .Kim Ung-Yong — Korea 200



Kim Ung-Yong Kim Ung-Yong (lahir 7 Maret 1963) mungkin merupakan orang superjenius, yang masih hidup saat ini, tercatat dalam catatan resmi Guinness Book of Record sebagai manusia dengan IQ tertinggi saat ini, yaitu 210. Kim mulai menempuh pendidikan di Universitas jurusan Fisika di saat usianya masih 3 tahun, dapat membaca dan menulis dalam 4 bahasa (Inggris, Korea, Jepang dan Jerman) pada saat ia berusia 4 tahun. Pada usia 4 tahun, ia menunjukkan kemampuannya menyelesaikan soal kalkulus integral dan differential yang sangat kompleks pada suatu acara TV di Jepang, menunjukkan kemahirannya dalam menguasai 4 bahasa yang dia kuasai dan menulis puisi. Pada saat Usia 7 tahun, ia diundang untuk ke Amerika oleh NASA, mendapatkan gelar professor Ph. D dalam bidang Fisika di Colorado State University sebelum ia berusia 16 tahun, semasa berkuliah ia juga bekerja sebagai researcher di Nasa dan melanjutkan pekerjaan tersebut sampai pada tahun 1978 ketika ia memutuskan untuk kembali ke Korea, mendalami bidang Teknik Sipil, yang sama sekali berbeda dari bidang yang ia dalami sebelumnya (Fisika) dan berhasil mendapat gelar Doktor pada bidang teknik sipil.

7. Thomas Wolsey Politician England 200



Thomas Wolsey lahir di Ipswich, Suffolk, sekitar 1475. Ayahnya, yang diduga tukang daging, memberikan pendidikan yang baik dan ia pergi ke Magdalen College, Oxford. Wosley ditahbiskan di sekitar 1498. Dia menjadi pendeta dengan Uskup Agung Canterbury dan kemudian pendeta Henry VII, yang mempekerjakan dia di misi diplomatik. Wolsey membuat nama untuk dirinya sebagai administrator yang efisien, baik untuk Crown dan gereja. Ketika Henry VIII menjadi raja pada 1509, meningkat cepat Wolsey dimulai. Pada tahun 1514, ia diciptakan uskup agung York dan setahun kemudian Paus membuatnya kardinal. Segera setelah itu raja menunjuk dia menjadi tuan kanselir.

8. Hugo Grotius Writer Holland 200

Hugo Grotius (10 April 1583 - 28 Agustus 1645), juga dikenal sebagai Huig de Groot, Hugo Grocio atau Hugo de Groot, adalah seorang ahli hukum diRepublik Belanda . Dengan Francisco de Vitoria dan Alberico Gentili ia meletakkan dasar bagi hukum internasional , berdasarkan hukum alam . Dia juga seorang filsuf , teolog , apologis Kristen , dramawan , dan penyair . Grotius pengaruh pada hukum internasional adalah yang terpenting, dan diakui oleh, misalnya, American Society of Hukum Internasional , yang sejak 1999 memegang rangkaian tahunan Kuliah Grotius . Selain itu, kontribusi untuk Arminian teologi menyediakan bibit untuk kemudian Arminian berbasis gerakan, seperti Methodisme dan Pentakostalisme dan dia diakui sebagai tokoh penting dalam perdebatan-Calvinisme Arminianisme.


9. Sir Francis Galton Scientist & doctor England 200

Francis Galton dilahirkan di pohon-pohon pinus dekat Sparbrook, Birmingham pada 16 Februari 1822 dan meninggal pada tahun 1911. Dia adalah yang terbaik dikenal untuk karya rintisannya pada kecerdasan manusia.Dia juga mendapat reputasi sebagai penjelajah besar dan antropolog dan diangkat menjadi ksatria pada tahun 1909. Hidup Galton telah menarik perhatian psikolog besar. Sebagai contoh Lewis Terman menulis sebuah makalah dalam upaya untuk memperkirakan IQ Galton Dia percaya bahwa kinerja Galton begitu luar biasa sebagai yang akan disebut bahwa seorang genius (Forrest, 1974). Karir Galton melahirkan kemiripan luar biasa dengan yang sepupunya Charles Darwin. Seperti Darwin, Galton menghadiri Cambridge, tetapi tidak melakukan sangat baik. Dia menghabiskan waktu bepergian sebelum menetap untuk bekerja ilmiah. Dan seperti Darwin, Galton telah menangkap ide-ide yang kontroversial, yang ia menyadari hanya bisa memadai dibuktikan oleh penyelidikan ilmiah yang cermat (Forrest, 1995). Galton ditempatkan nilai sangat tinggi pada ilmu pengetahuan. Galton menarik pemberitahuan kalangan ilmiah Victoria dengan akun tan eksplorasi Selatan-Afrika Barat, yang telah dilakukan antara tahun 1850 dan 1852 (Forrest, 1974). Pada tahun 1853 ia pada tahun 1853 dipilih sesama dari Royal Geographical Society dan, tiga tahun kemudian, dari Royal Society.

10 John Stuart Mill Universal Genius England 200



John Stuart Mill (20 Mei 1806 - 8 Mei 1873) adalah seorang filsuf Inggris, ekonom dan PNS. Sebuah kontributor berpengaruh untuk teori sosial , teori publik , dan ekonomi politik . Dia telah disebut "filsuf berbahasa Inggris paling berpengaruh di abad kesembilan belas"  konsepsi Mill tentang kebebasan dibenarkan kebebasan individu dalam oposisi terhadap kontrol negara terbatas.  Dia adalah pendukung ultilitarianisme , sebuah teori etika dikembangkan oleh Jeremy bentham 
Tangs : Unik Dan Menarik
sumber: http://bagusseven.blogspot.com/2012/03/10-manusia-terpintar-di-dunia.html

10 Racun Paling Mematikan

10 Racun Paling Mematikan

1. Sianida

Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung kelompok siano C≡N, dengan atom karbon terikat-tiga ke atom nitrogen. Musah dikenali karena berbau Almond (sering banget nich di Komik Conan! dead )
Kelompok CN dapat ditemukan dalam banyak senyawa. Beberapa adalah gas, dan lainnya adalah padat atau cair. Beberapa seperti-garam, beberapa kovalen. Beberapa molekular, beberapa ionik, dan banyak juga polimerik. Cyanida yang dapat melepas ion cyanida CN− sangat beracun.
Sianida membunuh dengan mencegah sel-sel darah merah dari menyerap oksigen. Hal ini menghasilkan proses yang dikenal sebagai “Internal Sesak Napas.” Kapsul Sianida yang diduga digunakan oleh mata-mata Perang Dunia II mata-mata sebagai pilihan pelarian yang mudah untuk menghindari penyiksaan.
Singkong mengandung HCN (Hidrogen Sianida), terutama singkong yang berasa pahit. Itu makanya ada orang bisa muntah” dan mabok habis makan singkong…
Tapi tenang teman… biasanya singkong yang di pasar kadar HCN nya dikit

2. Kacang Kastor

Minyak jarak digunakan sebagai bahan tambahan makanan dalam permen dan coklat. Yang tidak banyak temen” ketahui adalah biji tanaman itu berisi supertoxic racun ricin. Sedikit biji jarak yang temen” kunyah bisa berakibat fatal. Namun, menurut American Association of Poison Control Centre (AAPC) hanya dua korban jiwa akibat Castor Bean yang tercatat dalam periode 1999-2004.

3. Belladonna

Ekstraknya udah digunain dari zaman Renaissance… Efeknya terjadi pada pupil mata yang membesar. keracunan belladonna biasanya terjadi karena beberapa orang bodoh telah menemukan bahwa daun belladonna konon memiliki sifat halusinogen.

4. Fiddleback Spider Venom

Berukuran setengah inci, laba” Fiddleback atau Brown merupakan salah satu laba” yang paling berbisa di dunia. Pada kasus di dua puluh lima negara bagian (terutama di selatan dan barat-tengah) gigitan dari Fiddleback biasanya tidak nyeri tetapi setelah delapan jam, korban akan kesakitan. Dengan gigitan kecil akan menimbulkan gejala muntah, lepuh, Delirium dan Nekrosis.

5. Pufferfish

Bagian dari ikan buntal yang beracun adalah tetraodontoxin yang ditemukan dalam ovarium. Racun ini tidak hancur walaupun dimasak, meskipun para ahli mengatakan, jika isi perut dikeluarkan sebelum dimasak, ikan biasanya tidak berbahaya. Digunakan dalam masakan jepang “Fugu”, ikan buntal hanya dapat dimasak dan khusus disiapkan oleh koki terlatih dan berlisensi. Meskipun demikian, dari tahun 1955 sampai 1975 ada lebih dari 1.500 orang meninggal disebabkan karena makan Fugu yang tidak layak saji.

6. Heroin

Sebuah racun yang bekerja pada sistem pernapasan. Heroin menekan sistem saraf pusat dan menciptakan perasaan euforia. Angka kematian di antara pengguna heroin hingga 20%, sehingga daya tarik obat ini sulit untuk dipahami. Gejala keracunan meliputi kejang, penglihatan terganggu, tekanan darah rendah, koma dan kematian akibat kegagalan pernapasan. dingin ..

7. Hemlock

Hemlock adalah racun yang dianggap digunakan untuk membunuh Socrates, filsuf Yunani. Dalam larutan Hemlock konsentrasi tertinggi racun Cicutoxin ditemukan, yang diperoleh dari bagian akar tanaman. Satu gigitan pada akar tanaman Hemlock dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Larutan Hemlock menyebabkan menyebabkan kegagalan otot, kejang-kejang dan kematian…

8. Ular

Gigitan ular yang beracun bergantung pada banyak faktor, bervariasi dari lamanya waktu berlalu. Ular yang paling beracun adalah ular beludak (viper), kobra dan adders. Gejala keracunan ular meliputi pembengkakan, kegagalan organ, muntah, pendarahan dari mata dan hidung dan gusi serta sakit jelas di lokasi gigitan ular.

9. Arsenik

Secara historis, arsenik adalah alat pembunuh favorit dan selalu menjadi salah satu favorit perangkat yang digunakan dalam cerita misteri pembunuhan. Di Inggris, arsenik tersedia sebagai racun yang bebas dibeli di apotek untuk membantu penanganan hama tikus. Senyawa arsenik sebenarnya juga terdapat di semua jaringan manusia normal, dan arsenik adalah salah satu dari 20 elemen yang paling sering ditemui. Ketika digunakan sebagai racun, gejala arsenik meliputi ketidaknyamanan lambung parah, muntah dan diare dengan darah.

10. Strychnine

Salah satu dari bentuk racun yang lebih populer pada awal abad kedua puluh. Strychnine menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan reaksi refleks berlebihan. Dengan dosis yang benar korban bisa mati dalam waktu sepuluh sampai dua puluh menit.
Strychnine adalah senjata pembunuhan di novel Agatha Christie – Misteri Affair di Styles. Strychnineini merupakan racun yang bertindak cepat, pengobatan yang efektif sekarang mungkin tidak ada dan itu hanya dapat dilihat sebagai senjata pembunuh yang efisien dalam fiksi dan sangat kuno menunjukkan misteri pembunuhan

Sumber : http://www.beritaunik.net/top-10/10-racun-paling-mematikan.html